Ratusan Pedagang Pasar Klewer Solo Nunggak Retribusi, Ternyata Ini Penyebabnya

SOLO — Ratusan pedagang Pasar Klewer Solo mendapat surat teguran lantaran menunggak pembayaran retribusi dan iuran bulanan. Mereka diharuskan melunasi tunggakan sebelum 25 Desember 2019.

Belakangan diketahui munculnya tunggakan itu akibat alat penarik retribusi elektronik atau Tap Reader Machine (TRM) di pasar itu rusak.

Salah seorang pedagang Pasar Klewer yang juga anggota Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK), Muflikatin, mengatakan mayoritas pedagang sudah melakukan isi ulang pada rekening tabungan atau kartu e-retribusi masing-masing.

Namun, saat akan membayar dengan menempelkan kartu pada TRM, alat tersebut rusak sehingga pedagang terpaksa menunda pembayaran. Kerusakan yang berlangsung selama lebih dari tiga bulan membuat tagihan menumpuk.

“Kerusakannya sudah lama. Kalau rusak total enggak, tapi sinyalnya lemah. Kadang bisa, kadang enggak. Tapi banyak enggak bisanya. Bukti sudah membayar retribusi, kami menerima salinan bukti transaksi. Nah, karena enggak bisa di-tapping, ya retribusi belum terbayar,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com, pekan lalu.

Muflikatin mengatakan jumlah pedagang di Pasar Klewer saat ini sekitar 1.690 orang. Ribuan pedagang itu dilayani tiga TRM yang ditempatkan di lantai semi basement, lantai I, dan lantai II.

Operasional alat di lantai semi basement dan lantai I hampir tidak optimal. Alat tak bisa menerima sinyal operator telekomunikasi dengan baik.

“Alat di lantai II bisa digunakan setelah pukul 12.00 WIB saat sinyalnya membaik. Kalau sinyalnya pas enggak bagus, ya sama saja enggak bisa dipakai,” ucapnya.

Pedagang yang menunggak sudah menerima surat tagihan. Nilai tagihan beragam, tergantung lama tunggakan dan ukuran kios. Tarikan retribusi per bulan untuk kios ukuran 2,5 meter x 2 meter senilai Rp158.000. Nilai itu termasuk dana sampah dan kebersihan.

“Banyak pedagang yang minta dikembalikan ke cara manual atau ditagih keliling per hari. Tapi, ya masak mau kembali ke belakang. Mungkin mereka panik karena kalau sudah dapat surat teguran ketiga, kiosnya akan disegel,” ucap Muflikatin.

Sementara itu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Solo menawarkan pembayaran retribusi manual ke Kantor Pengelola Pasar. Mereka bisa membayar tagihan dan mendapatkan bukti rangkap tujuh, yang salah satunya diserahkan kepada pedagang.

“Solusi ini sudah disampaikan ke pedagang, juga sudah disiarkan lewat Radio Komunitas Gapura Klewer. Tapi, harapan kami ada pembaruan alat atau penambahan. Karena kan enggak bisa terus-terusan bayar manual. Pedagang sudah punya niat membayar, mereka rutin top up saldo. Cuma saat tapping itu alatnya jadi kendala,” kata dia.

Lurah Pasar Klewer, Edi Murdiarso, membenarkan keluhan pedagang tersebut. Kerusakan mesin tapping sudah diatasi dengan pemindahan server TRM.

“Memang saat pindah server ini paling enggak butuh waktu tiga bulan. Jadi, alatnya susah dipakai. Pedagang sudah kami minta menabung. Tetap top up. Saat alat sudah beres langsung tapping dan bayar retribusi. Tapi, kalau enggak mau top up, ya bisa membayar manual lewat kami,” kata dia dijumpai terpisah.

Ihwal penambahan TRM, dia berencana menambah satu alat lagi untuk mempermudah pelayanan kepada pedagang. Kepala Disdag Kota Solo, Heru Sunardi, mengakui kerusakan TRM ikut menghambat penerapan e-retribusi yang sudah dilakukan sejak 2017.

Capaian retribusi di Pasar Klewer hingga September lalu baru masuk sekitar 65 persen, padahal idealnya 75 persen. “Kemarin sudah dirapatkan kalau mesin tapping ada kendala. Jadi, mereka bisa setor tunai maksimal 25 Desember,” jelasnya.

(Mariyana Ricky P.D – Solopos.com)

 

 

LEAVE REPLY

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *